by

Waspadai Long Covid & Upaya Pencegahannya

-Artikel-1 Views

Oleh: Dr. Malik Saefudin, S.Km,.M.Kes (Ahli Epidemiologi Poltekkes Pontianak)

TepianKapuas.Com– WHO mendefinisikan Long Covid-19 (post covid syndrom atau chronic covid) diartikan sebagai suatu kondisi gejala yang muncul pada pasien yang sudah dinyatakan sembuh dari Covid-19 berdasarkan hasil swab negatif.
Gejala Long Covid bervariasi, paling banyak adalah kelelahan kronik , sesak napas atau napas berat, gejala berdebar terkait dengan jantung, nyeri sendi, nyeri otot termasuk ada gangguan psikologis termasuk depresi pasca Covid-19.

Sering ditemukan pada pasien long Covid parunya terdapat fibrosis atau kekauan pada jaringan paru yang sifatnya menetap bisa dalam 2-3 bulan. Fibrosis ini akhirnya menyebabkan oksigen tidak bisa masuk, sehingga keluhannya napas berat atau napas sesak. Ini bisa dilihat dari uji fungsi paru pasien. Beberapa pasien dilaporkan 20% sampai 30% mengalami penurunan fungsi paru. Akibatnya berdampak pada pernapasan. Pasien kerap mengeluh sesak napas.

Penderita Long Covid belum banyak mendapat perhatian. Padahal, studi menunjukkan, 1 dari 10 kasus Covid-19 berpotensi memiliki gejala virus corona yang berkepanjangan, satu bulan setelah infeksi, yang berarti, jutaan orang mungkin menderita Long Covid alias mengalami gejala virus corona yang berkelanjutan.

World Health Organization (WHO) melaporkan efek jangka panjang Covid-19 menyebabkan dampak yang berkepanjangan bagi sebagian orang. Bahkan pada orang dewasa dan anak-anak tanda didasari kondisi medis kronis. Beberapa gejala akan menetap atau berulang selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan setelah pemulihan awal. Hal ini juga bisa terjadi pada orang dengan penyakit ringan.
Dokter Spesialis Jantung di RS Harapan Kita, menyebutkan dampak Covid-19 ada tiga prinsip dasar, yaitu hypoxia atau penurunan kadar oksigen dalam darah, peradangan dan trombosis atau pembekuan darah.

Terdapat tiga fase ketika orang menderita Covid-19, yaitu fase viral di mana ketika virusnya masuk dan berkembang dalam tubuh. Ketika pasien diberikan obat akan terjadi gangguan listrik jantung atau aretmia. Ada pula fase inflamasi atau peradangan di mana fase ini terjadi proses peradangan di paru paru yang menyebabkan kadar oksigen di dalam paru berkurang. Kekurangan kadar oksigen atau hypoxia dapat mempengaruhi antara lain cidera pada jantung di mana pompa jantung tidak lagi normal. Pompa jantung normal adalah di atas 50%-60%. Ketika terjadi hypoxia pompa jantung menurun.

Berdasarkan laporan yang ada, long Covid-19 ini bisa muncul pada hampir semua populasi. Proporsinya saja yang berbeda. Ada beberapa kelompok yang berisiko lebih tinggi, misalnya pasien yang sudah memiliki komorbiditas seperti penyakit jantung dan paru kronik. Mereka akan lebih mudah mengalami masalah long Covid-19. Kemudian orang lanjut usia, atau orang orang memiliki risiko penyakti kronik, seperti perokok. Beberapa laporan menyebutkan mereka yang tidak memiliki penyakit komorbid pun mengalaminya
Survei yang dilakukan melalui telepon menunjukkan, 35% orang yang pernah terpapar Covid-19 kesehatannya tidak pulih seperti semula bahkan 2-3 minggu setelah dinyatakan negatif.
Mengingat dampak long Covid-19 ini sangat mengkawatirkan, maka harus diwaspadai oleh semua pihak terutama pemerhati maslah kesehatan, tenaga medis di RS, juga para pengabil Kebijakan di provinsi/kabupaten agar melakukan penanganan Covid-19 lebih baik, dengan mengutamakan upaya pencegahan.

Proses Pemulihan da beberapa langkah dalam antusipasi teehadapat dampak long covid yaitu: Pertama, yaitu informasi dan edukasi dari tenaga medis yg menangani kasus Covid di RS, anjuran ketika pasien telah dinyatakan sembuh dari sakit, yaitu agar melakukan gerkan/aktifitas secara berlahan lahan dari duduk ke berdiri, berdiri ke jalan, jalan ke jogging dan seterusnya, melakukan exercise aerobik. Menghindari Stres, anjuran kecukupan makan bergizi dengan menu seimbang, stop merokok bagi perokok untuk menghindari reinfeksi covid dan memburuknya kondisi kesehatannya. Kedua, kepada pemerintah pusat, dari tingkat atas sampai bawah, agar lebih optimal dalam penanganan Covid, terutama aspek promosi penggunaan protokol. Kesehatan, Penerapan praktik 3T (Tracing, Testing, Treatment) sama pentingnya dengan penerapan perilaku 3M (menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak). Kedua hal tersebut adalah upaya untuk memutus mata rantai penularan COVID-19. Hanya saja, penerapan praktik 3T masih perlu ditingkatkan pemahamannya di masyarakat, mengingat masyarakat lebih mengenal 3M yang kampanyenya dilakukan terlebih dahulu dan gencar. Serta pelaksanaan progran kegiatan vaksin yang serentak dan merata, sehingga dapat mencegah efek long covid.
Yang ketiga Masyarakat giat melakukan tindakan sederhana untuk mencwgaj penularan Covid, caranya dengan selalu menjalankan protokol kesehatan yaitu memakai masker, menjaga jarak dan menghindari kerumunan, dan mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, singga terhindar dari dampak Long Covid, juga ikut serta dalam program vaksin Covid-19, karena dapat mencegah secara tidak langsung terjadi Long Covid. Sebab, vaksin berfungsi mencegah seseorang terpapar penyakit Covid-19.
Semoga dengan upaya yang optimal secara integrasi (besma2), maka semoga wabah Covid segra selesai serta dapat mecegah long covid (wabah di atas wabah). Semoga***

Comment

News Feed