by

Waspadai indikator Viral Load yg tinggi sebagai Faktor Penting Dalam Penyebaran Covid-19 Pada Cluster Keluarga di Wilayah Kalbar

-Opini-87 views

Oleh : Dr. Malik Saefudin, S.Km,.M.Kes (Ahli Epidemiologi Poltekes Pontianak)

Sudah 1,3 tahun pandemi COVID-19 berlangsung dan program vaksinasi sudah berjalan. Namun belum menunjukan penurunan kasus siginifikan dan tanda-tanda Pandemi Covid-19 akan berakhir, bahkan beberapa rumah sakit di Kalbar sudah mulai banyak dikunjungi pasen Covid-19, seluruh ICU RS telah terisi pasien Covid-19, dikawatirkan melebihi > 80%, meskipun belum ada kepastian data terkait dengan status asal pasien dari Cluster keluarga, nun dibeberapa wilayah di Indonesai terdapat kecenderungan meningkat, selain perkantoran juga Cluater keluarga, misalnya DKI Jakarta, didominasi claster keluarga pasca liburan lebaran yang lalu. Secara epidemiologis, bisa dikatakan tak ada perbedaan kondisi yang telah terjadi di Kalbar dengan wilayah lain di Indonesia. Terutama pada wilayah perkotaan dan aktifitas penduduk cukup tinggi, seperti di Kota Pontianak, Kabupaten Kuburaya, Sintang, Landak dan Kota Singkawang.
Hal tesebut selain jumlah pemeriksaan/test yg belum mencapai target, juga pencegahan laju mobilitas penduduk antar kota/kab dan atar provinsi serta rendahnya ketaatan dalam prokes, sehingga menjadi faktor resiko kegagalan dalam upaya pecenganan covid-19 di wilayah Kalbar.
Adanya viral load yang tinggi ini, berdampak penting pada peningkatan kasus baik jumlah maupun penyebarannya khususnya pada cluster keluarga, serta tingkat keparahan pasien covid-19 dan ketersedian tempat pasien di RS.

Mungkin muncul pertanyaan, mengapa ada orang yang terinfeksi tapi tidak timbul gejala, tapi ada pasien sehat terjangkit virus kemudian meninggal dunia?

Untuk menjawab pertanyaan ini, sebelumnya diinformasikan terkait istilah viral load.

Viral load adalah jumlah kuantitatif partikel virus yang masuk ke sistem tubuh. Dengan bahasa lain, viral load adalah jumlah virus dalam sampel, terutama darah seseorang atau cairan tubuh lainnya. Viral load biasanya diukur untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi atau tidak.

Menurut penelitian ilmiah, viral load ini adalah “key factor/faktor penting” yang menentukan ringan atau beratnya infeksi dari Covid-19.

Golongan pasien dengan immunitas rendah adalah mereka dengan kondisi pre-morbid, contohnya penderita hipertensi/darah tinggi, diabetes, pasien yang pernah transplantasi organ, penderita HIV/AIDS, lanjut usia, penderita jantung, atau penyakit kronis lainnya.

Tetapi, mengapa banyak penderita berusia muda dan sehat seperti dokter dan tenaga medis lainnya terpapar covid-19 dan meninggal, sebagaimana kejadian pertama kali di Wuhan. Demikian juga banyak dokter-dokter muda di Italy, US, Indonesia yang meninggal. Padahal seharusnya imunitas mereka masih bagus?. Kejadian tersebut dikawatirkan akan begeser dari kluster tenaga medis di RS menjadi kluster Keluarga.

Ini karena selain daripada immunitas, “faktor viral load” ini sangat penting dalam menentukan infeksi ringan atau berat.

Hal ini disampaikan oleh Erin S. Bromage, Ph.D., seorang Associate Professor ahli Biologi di University of Massachusetts Dartmouth, Amerika Serikat dalam blog pribadinya pada 7 Mei 2021. Bahwa Infeksi dapat terjadi, melalui 1000 partikel virus menular yang diterima dalam satu napas, atau 100 partikel virus yang dihirup dengan masing-masing napas lebih dari 10 napas, atau 10 partikel virus dengan 100 napas. Masing-masing situasi ini dapat menyebabkan infeksi.
Jika seseorang terinfeksi dalam. Keluarga, tetesan dalam satu batuk atau bersin dapat mengandung sebanyak 200.000.000 (dua ratus juta) partikel virus yang semuanya dapat tersebar ke lingkungan sekitar keluarga mereka.

Ingat rumus: Infeksi Berhasil = Paparan Virus x Waktu
Jika seseorang batuk atau bersin, partikel virus 200.000.000 itu tersebar kemana-mana. Beberapa virus menggantung di udara, sebagian jatuh ke permukaan, sebagian besar jatuh ke tanah. Jadi jika seseorang berhadapan langsung dengan penderita dalam kegiatan makan minum besama, berolah raga bersama, bercakap-cakap, dan orang itu bersin atau batuk langsung, cukup mudah untuk melihat bagaimana mekanisme 1.000 partikel virus dapat masuk dan menginfeksi ke orang lain.
Beberapa tetesan yang terinfeksi yang terkecil dari yang kecil juga dapat melayang di udara selama beberapa menit, mengisi setiap sudut ruangan berukuran sedang dengan partikel virus yang menular.

Paparan virus x formula waktu adalah dasar pelacakan kontak. Siapa pun yang menghabiskan lebih dari 10 menit dalam situasi tatap muka, maka berpotensi terinfeksi. Bisa jadi dari setiap terbentuknya klaster penularan Covid-19 di keluarga baik disadari mapun tidak, maka diantara mereka dalam pemeriksaan PCR akan diketemukan Viral load yg sangat tinggi, seprti yang pernah terjadi pada bukan april yang lalu di klaster poltekes pontianak, ternyata ada diantara mereka yang memiliki Viral load sangat tinggi > 1 juta, sebagai penular yg efektif dan terbentuknya klaster tersebut.

Ini juga mengapa sangat penting bagi orang-orang yang yang sedang melakukan isoman di rumah antara hari ke-1 sampai 5, di saat makan minum, berbicara, bersin dan batuk dapat mengeluarkan begitu banyak virus sehingga berpotensi menginfeksi seluruh keluarga, maka diperlukan pengetahuan tentang prosedur Isoman yg aman di rumah.

Apa peran orang tanpa gejala di rumah dalam menyebarkan virus?
Orang yang bergejala bukan satu-satunya cara virus ditularkan. Kita tahu bahwa setidaknya 44% dari semua infeksi dan sebagian besar penularan yang didapat masyarakat terjadi dari orang tanpa gejala (orang tanpa gejala atau orang yang tidak bergejala) di kelurga. Siapapaun dapat berpotensi menularkan virus ke lingkungan hingga 5 hari sebelum gejala dimulai. Oleh karenya kita dan keluarga harus berpartisipasi aktif dalam pelaksaan prokes dimana saja.
Dua gambaran skenario berikut ini memberikan penjelasan tentang bagaimana viral load berperan pada penularan virus corona di masyarakat.

Skenario A: slah satu orang dari keluarga Pak Fery dan keluarga Pak David bertemu di restoran tanpa masker dan duduk berdekatan. Slah satu kelurga Pak Fery ternyata mempunyai virus Covid-19 dengan viral load tinggi, akibatnya jumlah transmisi viral load yang masuk ke salah satu keluarga Pak David sangat tinggi. Skenario B: keluarga Pak Fery dan kelaurga Pak David bertemu di restoran akan tetapi mereka menjaga jarak sedikitnya 1 meter, dan menggunakan masker.
Dengan skenario sama dimana keluarga Pak Fery mempunyai virus di badan, viral load yang masuk ke badan salah satu keluarga Pak David jumlahnya jauh lebih sedikit.

Mengingat mekanisme penularan virus sangat masif dari orang ke orang pada Viral load tinggi, maka dari itu, keluarga khsususnya dan masarakat pada umumnya untuk melaksnakan prokes dg baik, memggunakan masker yang terstandar, menghindari kerumanan di tempat umum (rumah makan), dll melakukan prokes dg baik.

Semakin banyak penderita tanpa gejala, dimana jaraknya berdekatan dengan orang lain, maka viral load akan semakin tinggi.
Timbul pertanyaan selanjutnya, apakah berbeda apabila jumlah virus yang masuk banyak atau sedikit?

Untuk diketahui, setelah virus masuk ke tubuh kita, virus akan mengambil alih fungsi sel tubuh kita untuk berkembang biak/replikasi.

Tetapi immunitas yang terbentuk dari vaksin, badan kita akan mengenali virus asing di tubuh dan dengan cepat mengeluarkan “innate immune response/immunitas fase 1” (tubuh mengeluarkan protein2 seperti cytokine dan interferon untuk melawan virus asing). Saat ini terjadilah ‘perang’ antara immunitas tubuh kita dan virus. Seperti yang terjadi di pertempuran, siapa yg bisa mengumpulkan ‘pasukan’ secara cepat dan banyak akan menang.

Kalau viral load yang masuk jumlahnya sangat tinggi, sistem immunitas kita akan menjadi “overwhelmed/kewalahan” karena virus sangat cepat berkembang.
Jika ini terjadi, virus ini kemudian akan turun dari hidung dan tenggorokan kita untuk menyerang sel di paru-paru, dan kemudian menyebabkan infeksi paru-paru berat.

Lebih buruk lagi, kalau viral load ini sangat tinggi, sistem immunitas bukan hanya kalah tapi mereka akan berantakan dan memproduksi reaksi immunitas berlebihan. Ini yang disebut “cytokine storm” dimana immunitas badan berbalik menyerang badan, organ-organ, lalu terjadi syok dan kematian dapat terjadi cepat.

Sebaliknya, jika viral load yang masuk ke badan berjumlah sedikit, maka kemungkinan untuk “menang perang” tinggi.

Dengan immunitas fase 1 mereka bisa mengontrol jumlah virus. Setelah itu tubuh kita belajar mengeluarkan “acquired immune response/immunitas fase 2” (Tubuh mengeluarkan B-cell and T-cell) yang spesifik untuk melawan virus.

Sel-sel tubuh yang dikeluarkan oleh immunitas fase 2 lebih kuat/efektif dibandingkan dengan immunitas fase 1. Jika immunitas fase 2 sudah jadi, secara teori sudah bisa melawan dan membunuh virus pada tubuh.

Dengan begitu upaya kecepatan dan ketepatan sasaran program vaksinasi Covid-19 di wilayah Kalbar, dapat memberikan dmpak terhadap penurunan kasus dan kematian akibat Covid-19. Semoga ke depan program vaksin Covid-19 sudah berbasis keluarga, selain mudah dalam pemdataan sekup lebih kecil, juga utk ketahanan/immunitas anggota keluarga dan tentu pada akhirnya akan tecapai kekebalan kelompok masyarakat (herd immunity) dari serangan Covid-19. Hal ini sebagai kunci keberhasilan penanganan Covid-19 di Indonesia.

Semoga pengetahuan dan informasinya meknisme Viral load ini, dapat dipahami semua pihak, khususnya anggota keluarga dan pihak berwenang dinkes pemerintah daerah dalam upaya pencegahan dan penanganan Covid-19 di wilayah Kalbar yang lebih optimal. Semoga***

Comment

News Feed