by

Taati ketentuan pemerintah dan Ulama untuk menekan laju penularan covid-19 yang lebih baik

-Berita, Opini-106 views

Oleh: Dr. Malik Saefudin, S.Km. M.Kes (Ahli Epidemiologi Poltekkes Pontianak)

Peningakatan kasus terus terjadi pada masa pandemi bahakan Indonesia menempati urutan tertinggi di dunia, untuk kasus positif harian di Indonesia, berdasarkan data terbaru dari Satgas Covid-19, Rabu (14/7/2021), kasus harian bahkan kembali naik melebihi angka 50.000 kasus, tepatnya 54.517 kasus menjadi 5 negara dengan jumlah kasus tertinggi di dunia yaitu di atas Brasil, Spanyol, India dan Inggris.
Dearah penyumbang kasus harian tertinggi masih didominasi di Pulau Jawa sekitar 37.000, (68%), khusunya DKI Jakarta tertinggi, Kepulauan Sumatra oleh Riau dan Pulau Kalimantan, Kaltim dan Kalbar, dan Nusa Tenggara Barat, Sehingga sebagian besar pada wilayah tsb, dilaksankan penerapan PPKM Mikro Darurat untuk menekan laju peningkatan kasus dan kematian akibat Pandemi Covid-19.
Pola dan ritme peningkatan dan penyebaran kasus di Indonesia sama, yaitu selalu di wilayah kota besar, mulai dari Ibukota nagara, ibu kota provinsi dan ibu kota kabupaten/Kota, dimana mobilitas/aktifitas penduduk cukup tinggi, laju peningkatan mengikuti irama dan mobilitas/akitifitas penduduk diperkotaan seperti kota pontianak ini yang sedang berada pada Zona darurat.
Oleh karenanya Penerapan PPKM Mikro Darurat ini sangat tepat untuk melindungi penduduk dari resiko keterpaparan Covid-19. Sehingga diperlukan menekan tingkat mobilitas penduduk dan meingkatkan ketaatan penduduk pada prokes 5 M.
Keberhasilan PPKM ini sangat tergantung pada ketaatan penduduk dalam prokes, yakni penggunaan masker dan mengurangi aktifitas/mobilitas serta kerumunan.
Tetapi realitanya sangatlah sulit, ketaatan masyarakat, dengan terjadinya pelanggaran disana sini, diperlukan tindakan yang lebih tegas aparat, khususnya dalam mengamankan Surat edaran pemerintah Pusat/Provinsi/Kabupaten Kota.
Sebagai contoh nyata, bahwa pola peningkatan kasus terjadi pasca hari raya idul fitri 1442 H, mungkin potensi terjadi lagi pada pasca hari raya idul adha akibat ketidaktaatan tehadap surat edaran, salah satunya masih tetap saja melakukan sholat beejamaah/idul adha di masjid.
Pedahal jelas pelanggaran tsb dapat berakibat fatal, terjadinya penularan masif antar jamaah, pada ruangan tertutup dengan sirkukasi udara yang kurang baik karena penggunaan AC, maka partikel virus corona dalam aerosol dan droplet yg jumlahnya jutaan, akan mudah terhirup oleh jamaah dan petugas khotib yg tidak menggunakan masker. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian salah satu dosen Poltekkes kemenkes pontianak, Adip (2020), menyimpulkan bahwa pada ruangan ber AC yg tertutup ditemukan jasad renik yg jumlah dan jenisnya sangat tinggi dibanding pada Ruangan yang tidak ber AC dengan jendela tetap terbuka (bertekanan udara negatif) sehingga sirkulasi udara lebih baik. Meskipun tdk secara khsusus tentang Covid-19, namun adanya aerosol dan droplet partikel virus corona yang bertembaran dan jumlahnya jutaan di suatu rungan, maka dapat dianalogikan dg hasil penelitian tsb, bahwa adanya kipas atau angin dari luar/sirkulasi udara yg baik, menjadikan partikel virus corona dlam aerosol dan droplet tdk eksis sampai terhirup hidung dan mulut saat bernafas.

Ini menjadi fenomena menarik, ketika sebagian besar para ulama/kiyai/ustadz terpapar virus Corona sampai pada tingkat yang parah dan fatal tercatat pada pemeriksaan PCR memiliki CT rendah.
Titik lengahnya adalah mereka tidak menggunakan masker ketika memeberikan tauziah/ berceramah/khutbah di depan Jamaah di ruang dg sirkulasi udara kurang baik, dimana sebagian besar jamaah tidak melakukan prokes/tidak menggunakan masker, maka dengan sangat mudah jutaan partikel virus corona yg bertebaran dlam bentuk aerosol dan droplet mudah terhirup terutama oleh para penceramah dan juga jamaah yg tdk menggunakn masker.
Ada referensi menarik di jurnal WHO, dinyatakan bahwa jika pd suatu wilayah terjadi peningkatan tajam Kasus Covid-19, sementara tdk ada jaminan masy melakukan prokes jaga jarak, maka diperlukan tindkan tegas oleh otoritas wilayah tsb agar dipaksa 100% penduduknya mengenakan masker yg baik dan standar. Menurut jurnal tsb adalah merupakan tindakan efektif mencegah terjadinya penularan. Hal ini dapat diterangkan bahwa sebagai sumber utama dan pertama jalan keluar/masuknya virus adalah dari hidung dan mulut, maka memakai Masker adalah pencegahn yg efektif pada sumbernya.

Terkait dg hal tsb di atas, maka uapaya pemerintah melalui SE Kemenag, SE Gub, SE Kota, serta keputusan MUI untuk melarang sementara ibdah sholat berjamaah/idul adha di masjid adalah hal yg sangat tepat untuk memutus mata rantai penularan Covid-19, oleh karenanya semua pengurus dan jamaah seharusnya mengikuti hal tersebut untuk kemaslahtan umat, krn menjaga Jiwa adalah lebih utama menurut syariat.
oleh karenanya perlu sosialisasi dan edukasi masif oleh petugas khsususnya kpd para takmir mesjid dan kepada jamaah, pentingnya prokes dan mentaati ketentuan pemerintah dan majelis ulama. Namun jika masih sulit dilakukan, maka upaya yg lebih tegas lagi dengan memanggil ketua takmir terkait dg pelanggaran Prokes dibawa ke ranah hukum karena melanggar UU karangtina dapat dijerat pasal pelanggaran darurat, jika masih sulit, maka jalan satu-satunya adalah memaksa jamaah utk melakukan prokes ketat sebagai ikhtiar maksimal, penggunaan masker bagi jamaah dikontrol oleh penegak hukum, satpol PP dan polisi/TNI. Ini Momennya sangat tepat dlam pemberlakuan PPKM darurat. Ada nilai tawar yaitu didenda/pidana atau memakai masker bagi jamaah. Terutama ditujukan pada ketua takmirnya. Karena Masjid Mujahidin sbagai Icon Pontianak/Kalbar sudah dapat sebagai contoh dalam penerpan prokes/taat terhadap ketentuan pemerintah pusat/Provinsi/Kota dan MUI, untuk tidak menyelenggarakan berjamaah.

Semoga upaya yang dilakukan pemerintah dan semua pihak termasuk partisipasi masyarakat dalam melaksnakan ketentuan hukum dan syariat, yaitu dengan tetap melakukan mentaati surat edaran dan prokes dg baik, semoga pandemi Covid-19 di kota Pontianak dan Provinsi Kalimantan Barat, serta Indonesia dapat di atasi dengan baik. Semoga***

Comment

News Feed