by

Strategi Penanganan di Zona Merah dan Orange Dilakukan Serentak dan Mendesak Agar Aparat Bertindak Tegas

-Opini-205 views

Oleh: Dr. Malik Saefudin, S.Km,.M.Kes (Ahli Epidemiologi Poltekkes Pontianak

PONTIANAK–Kondisi peningkatan kasus Covid-19 pada 3 bulan terakhir pasca liburan lebaran di wilayah Kalbar terkini telah mencapai klimaks sepanjang waktu sangat mengkawatirkan, dimana Kota Pontianak, masuk dalam zona merah (tingkat resiko bahaya tinggi), sedangkan 13 Kabupaten/Kota yang lain masuk zona orange yaitu tingkat resiko bahaya sedang.

Kondisi inilah yang menjadikan Provinsi Kalbar termasuk Provinsi dengan peningkatan kasus diatas rata-rata nasional, dan menjadi perhatian pemerintah pusat dalam penerapan PPKM mikro ketat untum percepatan pencegahan dan penanganan Covid-19.

Namun sampai saat ini belum menunjukan adanya penurunan kasus. Hal serupa juga terjadi merata di seluruh Wilayah Indonesia terutama di wilayah perkotaan. Selain faktor penyebab utamanya adalah semakin longgarnya penerapan Prokes oleh masyarakat. Juga tindakan yang kendor dari aparat melakukan pendisiplinan masyarakat dalam prokes khususnya dalam penegakan disiplin penggunaan masker pada masyarakat yang melanggar, diperparah dengan persoalan masifnya penggunaan surat keterangan PCR palsu oleh penumpang peaawat untuk syarat masuk ke Kalbar. Hal ini sangat beresiko bagi penduduk lokal Kalbar dengan terjadinya transmisi lokal dari para oknum penumpang yang sebenarnya positif sebagaimana hasil temuan beberapa waktu yang lalu.

Secara epidemiologi inilah penyumbang terbesar sejak diawal terjadinya pandemi yang bermula dari Wuhan, maka dengan kecepatan penyebaran luar biasa terjadi di seluruh pelosok negeri seluruh dunia. Karena tidak ada kecepatan penularan penyebaran/perjalanan penyakit kecuali melalui pergerakan pesawat.

Tetapi sayangnya tidak menjadi pelajaran yang berharga, seharusnya ada keberanian pemerintah untuk menghentikan penerbangan sementara waktu antar provinsi terutama dari Pulau Jawa yang pada saat ini sedang terjadi penularan masif oleh virus varian delta yang lebih cepat menular dengan tingkat keparahan penyakit yang lebih berat dan menyasar pada usia muda.

Sebagaimana disampaikan oleh Kementerian Kesehatan bahwa telah memastikan masuknya varian delta virus corona ke Indonesia sejak 3 Mei. Varian delta kini mendominasi di sejumlah wilayah yang mengalami lonjakan kasus Covid-19. Bisa jadi di Wilayah Kalimanatan Barat, khususnya wilayah perkotaan seperti Kota Pontianak yg pada tanggal 29 Juni 2021 lalu dinyatakan sebagai zona merah ditandai dengan mobiltas tinggi, pelongaran prokes, serta berdekatan dengan sumber pergerakan orang antar provinsi khususnya DKI jakarta, Jawa Tengah dan Pulau Jawa, Madura dan Bali. Sebagaimana kita ketahui ada tiga wilayah yang jadi perhatian itu adalah DKI Jakarta, Kabupaten Kudus, dan Kabupaten Bangkalan.

Kasus penularan dari mutasi-mutasi tersebut masuk sebagai kategori Variant Of Concern atau mutasi yang memang sangat diperhatikan oleh WHO karena dinilai lebih berbahaya daripada varian virus corona lainnya.

Bahaya Varian Delta yang perlu di waspadai adalah lebih mudah menyebar dan menimbulkan dampak kesakitan yang lebih parah, serta menyasar pada kelompok umur lebih muda, mulanya gejala-gejala ringan tapi perburukannya lebih cepat. Jadi misalnya mengalami sesak nafas, lalu lebih cepat memburuk kondisinya.

Sebagaimana dikatakan oleh ketua Umum PB IDI, Daeng Muhammad Faqih, bahwa Varian Delta ini berpotensi menginfeksi terhadap anak-anak, ibu hamil dan ibu menyusui dengan tingkat keparahan penyakit yang lebih serius. Untuk ibu hamil akan berpengaruh terhadap janin. Atau kalau ibu menyusui berpengaruh kepada anaknya. Sebab hubungan yang dekat itu bisa ikut tertular juga.

Meskipun belum ada penelitian yang menyatakan keberadaan varian delta di Kalbar, namun jika melihat tipe penyebaran yang cepat dan tingkat keparahan dan kematian yang tinggi, Zonasi wilayah yang terus dinamis ke arah resiko bahaya yg lebih tinggi yaitu Zona kuning ke orange dan ke merah. Hal ini menunjukan adanya eksistensi dan keberadaan varian baru tersebut telah masuk di Kalbar.

Mengingat bahwa potensi bahayanya lebih besar dari varian alpa, beta dan gama, maka diperlukan perhatian yang lebih serius oleh satgas Covid-19 Provinsi/Kabupaten/ Kota. Terutama memberikan langkah-langkah strategis sesuai prinsip penanganan pandemi penyakit menular adalah lebih cepat, lebih baik , upaya efektif dan komperhensif dilakukan pada sumbernya yaitu komitmen menghentikan sementara waktu mobilitas antar wilayah ; inilah hakikat pembatasan wilayah (lockdown), oleh karena langkah mendesak adalah hentikan penerbangan antar Provinsi terutama dari Pulau jawa, sebelum terlambat.

Lakukan secara serentak disemua Kab/Kota di Provinsi Kalbar jangan melihat Zonasi wilayah administrasi karena penyakit menular tidak mengenal wilayah administrasi/zonasi, tetapi bergerak cepat mengikuti kecepatan pergerakan manusia.

Pemrov/Kab/Kota harus mendengar para ahli epidemiologi dan mau mengambil pelajaran dan pengalaman masa lalu, bahwa pola lonjakan dan penyebaran kasus sangat jelas dan nyata yaitu setelah terjadi pelonggaran liburan lebaran, dan juga ketika wilayah Pulau Jawa DKI Jakarta dan sekitarnya. Maka terlihat jelas terjadinya peningkatan kasus di wilayah Kalbar khususnya perkotaan sepErti dimulai dari Kota Pontianak yang berdekatan dengan sumber penularan/pergerakan penduduk yaitu di Bandara Supadio.

Selanjutnya Pemprov/Kabupaten/Kota komitmen mematuhi prosedur yang telah digariskan oleh Satgas Penanganan Covid-19 pemerintah pusat dalam pencegahan dan penanganan Covid-19 yang benar.

Tidak ada cara lain kecuali semua duduk bersama serentak dan komitmen penanganan dilakukan secara komperhensif, karena penyakit tidak menular mengenal batas wilayah administrasi/Zonasi. Saatnya lakukan sosialisasi edukasi melawan pandemi hoax, Prokes 5M sampai pada tindakan tegas disiplin tanpa pandang bulu yang melanggar prokes oleh Aparat penegak hukum, Satpol PP, Polisi, TNI harus dikerahkan, pada era darurat kesehatan masyarakat ini di semua Kab/Kota Kalbar tindakan hukuman tegas kepada oknum dan penumpang pesawat yang melakukan pelanggar pemalsuan surat kerangan PCR, atau hentikan penerbangan yang beresiko membawa varian Delta.

Lakukan upaya pengelolaan/penanganan kasus 3T dan vaksinasi yang lebih cepat dan tepat oleh petugas kesehatan.
Prioritas tindakan mengarah pada kaula muda, yang bergerak aktif namun beresiko terhadap penyebaran masif varian Delta ini.

Hal tersebut juga cukup menjadi alasan kuat bahwa untuk menunda kegiatan tatap muka pada semua jenjang pendidikan di Indonesia yang akan dilaksanakan pada bulan Juli 2021. Satu hal yang tidak boleh ditinggalkan ketika prokes lemah/longgar dan peningkatan kasus varian baru meningkat, maka penggunaan masker standar (medis) harus dilakukan. Sebagaimana rekomendasi WHO, efektifitas pencegahan dilakukan pada sumbernya, yaitu hidung dan mulut sebagai pintu utama keluar masuknya virus corana ke dalam tubuh sehingga penggunaan masker adalah opsi pencegahan terpenting.

Comment

News Feed