by

Refleksi Hari Kebangkitan Nasional: Jadikan Pemicu Gerakan Kolaboratif Untuk Melahirkan Solidaritas Nasional di Tengah Ujian Bangsa

-Berita, Opini-142 views
banner

Refleksi Hari Kebangkitan Nasional: Jadikan Pemicu Gerakan Kolaboratif Untuk Melahirkan Solidaritas Nasional di Tengah Ujian Bangsa

Oleh : Tommy Tri Handoko,SH. Aktivis Sosial dan Ketua Pemuda Muslimin Indonesia Kota Pontianak

DPW Pemuda Melayu

TepianKapuas.Com, PONTIANAK — Hari ini, untuk kesekian kalinya kita memperingati hari kebangkitan nasional. Peringatan yang usianya melebihi usia bangsa kita Indonesia. Lebih lagi dalam peringatan hari kebangkitan nasional tahun ini tepat pada hari ke-27 Ramadhan yang diharapkan malamnya merupakan malam Lailatul Qadar oleh sebagian besar umat Islam baik di Indonesia dan dunia. Malam yang membuat energi untuk bertahan dari kelemahan dan bangkit untuk mendapatkan kemuliaannya. Tidak kalah pentingnya peringatan kebangkitan nasional ini pada kondisi hampir seluruh negara di dunia termasuk Indonesia sedang menghadapi pandemi Covid-19 yang berdampak besar dalam hampir seluruh aspek kehidupan yang belum berkepastian. Rabu (20/5).

Membersamai diri ini tetap terjaga pada akhir bulan Ramadhan dan momentum kebangkitan nasional, kami coba memberikan fikiran berkenaan dari sejarah kebangkitan nasional, kita jadikan kondisi pandemi Covid-19 sebagai pemicu bergeloranya gerakan kolaboratif yang melahirkan solidaritas nasional untuk memberikan kepedulian untuk mewujudkan mimpi dan harapan untuk Indonesia di masa depan.

Kebangkitan Nasional merupakan pembagian periode sejarah Indonesia. Kebangkitan Nasional merupakan periode awal sejarah lahirnya Indonesia. Dimana kondisi saat itu negeri kita dalam masa penjajahan yang sudah sangat lama. Oleh karena dalam kungkungan penjajahan yang begitu lama maka masa itu terjadi perubahan cara berpikir karena struktur sosial saat itu, yaitu etnis atau suku bangsa, dan struktur politik berupa kerajaan-kerajaan kecil Nusantara tidak lagi relevan untuk melawan penjajahan. Kesatuan fikiran inilah yang menjadi pijakan awal lahirnya perhatian untuk berkolaborasi dan membangun solidaritas dalam menciptakan gerakan kebangkitan nasional yakni diawali lahirnya Boedi Oetomo yang dua puluh tahun berikutnya disambut dengan lahirnya Sumpah Pemuda.

Lahirnya Boedi Oetomo yang dilanjutkan dengan adanya Sumpah Pemuda dua puluh tahun kemudian itu dapat dikatakan sebagai momentum kesepakatan Mimpi, Perhatian, dan Harapan yang besar yaitu lahirnya Indonesia. Sebuah negara dan bangsa yang berdaulat yang harus mampu memberikan pengaruh besar bagi jalannya kehidupan manusia di dunia.

Berawal dari mimpi, perhatian, dan harapan besar tersebut dan tentu dengan dibarengi kesatuan gerakan solidaritas yang perduli terhadap nasib masyarakat untuk dapat lepas dari ujian panjang berupa penjajahan dari segala aspek untuk kemudian merdeka dan melahirkan bangsa dan negara sendiri ; akhirnya pun kemerdekaan dan lahirnya Indonesia terwujud.

Dari sedikit cerita sejarah kebangkitan nasional yang melahirkan Indonesia di atas, kita mestinya dapat mengambil pelajaran penting didalamnya sebagai sebuah energi untuk melakukan mimpi dan harapan lahirnya kebangkitan nasional berikutnya ; Indonesia yang harus mampu memberikan pengaruh besar bagi jalannya kehidupan manusia di dunia. Indonesia yang bukan menjadi objek, namun harus menjadi subjek dari percaturan mempengaruhi kehidupan masyarakat di dunia bersama negara USA, Cina, Rusia, Jepang, ataupun India.

Tidakkah terlalu berlebih-lebihan terhadap mimpi dan harapan tersebut? Padahal posisi kita sekarang sedang mengalami berbagai macam krisis dampak dari pandemi Covid-19.

Dari sinilah momentum pembacaan dan pembelajaran terhadap sejarah harus kita terapkan. Masih dalam suasana bulan Ramadhan dan peringatan hari kebangkitan nasional yang kita dan dunia diselimuti pandemi Covid-19 ini, kita anggaplah sedang “perang” menghadapi pandemi tersebut dengan segala dampaknya.

Rasulullah SAW ketika dalam masa menghadapi krisis disaat perang Khandaq dengan segala macam rintangan dan kondisinya saat itu ; paceklik makanan, dikepung koalisi, adanya pengkhianatan dari dalam, dan harus menggali parit yang begitu besar dan panjang, justru menyampaikan mimpi dan harapan besar kepada para sahabat-sahabat nya bahwa kelak Konstantinopel akan ditaklukkan, Roma berikutnya, serta Islam kelak akan menaungi dunia dengan kasih sayang.

Hal yang senada juga disampaikan oleh Bung Karno, yang menurut kesaksian Ki Hadjar Dewantara dalam Dari Kebangunan Nasional sampai Proklamasi Kemerdekaan, “Hari itu (20 Mei 1908) menurut beliau adalah hari yang patut dianggap hari yang mulia untuk bangsa Indonesia, karena pada hari itu perhimpunan kebangsaan yang pertama, yaitu Boedi Oetomo, didirikan dengan maksud menyatukan rakyat, yang dulu terpecah-pecah, agar dapat mewujudkan suatu bangsa yang besar dan kuat.”

Dari dua contoh sejarah tersebut di atas, kita bisa jadikan kondisi pandemi Covid-19 yang melanda dunia termasuk Indonesia, kami mengajak seluruh elemen baik pemuda, masyarakat, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta para pimpinan di negeri ini untuk bersatu dalam gerakan kolaboratif yang melahirkan solidaritas nasional yang dapat memberikan kepedulian di masa sulit untuk kemudian membangun dan mewujudkan mimpi dan harapan untuk masa depan yang mana kita bangsa negara Indonesia dapat menjadi subjek yang turut serta mempengaruhi berjalannya kehidupan masyarakat di dunia.

Selamat Hari Kebangkitan Nasional, Jayalah Bangsaku, Jayalah Indonesiaku

banner

Comment

News Feed