by

REFLEKSI. Dilema Pembelajaran Daring di Daerah Pedalaman

-Artikel, Opini-467 views

PONTIANAK — Dunia Pendidikan merupakan salah satu sektor terdampak pandemi Covid-19 sejak awal kemunculannya pada Maret lalu. Untuk mensiasati proses belajar mengajar agar tetap berjalan tetapi satu sisi harus tetap menjaga agar para insan pendidikan tidak tertular virus, Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan mengeluarkan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau Daring di semua jenjang tanpa terkecuali.

Langkah ini di nilai cukup efektif sebagai salah satu terobosan untuk mengurai permasalahan kegiatan belajar mengajar selama masa darurat kesehatan khususnya di Kota-Kota besar yang berada pada zona berbahaya. Tetapi, bagi daerah pedalaman Pembelajaran Daring menjadi masalah tersendiri mengingat minimnya infrastruktur penunjang dan faktor lainnya. Walaupun di masa New Normal sekarang Pemerintah telah mengizinkan proses belajar tatap muka berdasarkan kriteria zona dan telah memberlakukan Shiffting diikuti pembatasan jumlah siswa untuk proses belajar tatap muka, namun perlu refleksi terhadap proses sistem belajar online sebagai langkah antisipasi apabila tanpa kita inginkan intruksi pembelajaran daring kembali harus dilakukan secara menyeluruh. Sabtu (22/8)

Terkait Pembelajaran Daring di daerah. Lisa, salah satu guru di Pedalaman Kabupaten Sanggau mengatakan kendala pelakasanaan daring di tempat ia bertugas yakni infrastruktur penunjang seperti jaringan internet yang tidak memadai serta faktor ekonomi sehingga sulit untuk memenuhi penyedian fasilitas pada anak. Akibatnya, upaya untuk menyesuaikan kebijakan yang di intruksikan pemerintah menjadi tidak efektif.

” Di daerah ini kendala utamanya fasilitas internet kurang memadai dan faktor ekonomi yang menyebabkan anak tidak memiliki smarphone. Itu yang menyulitkan kita di daerah untuk menjalankan daring ini”. Tuturnya.

Senada dengan Lisa. Muhammad Firman, Kepala Sekolah SMPN 1 Pinoh Selatan Kabupaten Melawi juga membenarkan jika fasilitas pendukung merupakan masalah utama untuk pelakasaan daring khusus daerah pedalaman. Terlebih, Tutur Firman, di tempatnya bertugas justru tidak ada listrik dan signal. Hal ini juga yang memaksa Firman untuk menempuh cara lain demi pelaksanaan proses belajar mengajar tetap berjalan.

” Kendala infrastruktur pastinya bang, tempat saya tak ada signal dan listrik, jadi kami otomatis tidak bisa belajar online. Jadi agar pembelajaran tetap berjalan saya mengambil langkah dengan cara siswa mengambil tugas ke sekolah dan mengerjakan dirumah,” Katanya.

Firman berharap, perlu dukungan dengan cara mengefektifkan dana desa untuk penyedian peralatan telekomunikasi guna menopang sistem belajar online. “Kita berharap adanya alat seperti pemancar internet mini di setiap desa untuk mendukung sistem belajar online ini,” tutupnya

Mengenai hal ini, Ketua PGRI Kalbar. Prof.Dr.Samion mengatakan untuk meng-efektif-kan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) khususnya di daerah pedalaman, Pemerintah sebagai pembuat kebijakan perlu melakukan sebuah terobosan baru terkait kendala di lapangan dalam hal ini akses internet. Menurut pengamatannya sejauh ini di Kalbar belum ada penambahan infrastruktur penunjang internet di daerah-daerah tertentu sehingga jaringan bisa diakses secara merata di semua wilayah.

Prof Samion menilai Pemda melalui Dinas Pendidikan harus membuat peta tentang terkait kondisi wilayah yang susah terjangkau jaringan internet dan membuat kebijakan alternatif khusus wilayah tersebut agar pembelajaran tetap efektif. Apalagi, lanjut Prof Samion. Kemungkinan terpapar Covid-19 di daerah pedalaman tidak terlalu rentan dengan catatan harus tetap tertib dengan protokol kesehatan.

” Pembelajaran jarak jauh selama masa pandemi ini sebetulnya merupakan tanggung jawab bersama antara orang tua, masyarakat, guru dan pemerintah. Namun pemerintah sebagai pembuat kebijakan tentu harus memperhatikan dan menyiapkan faktor penunjang untuk menjalankan kebijakan tersebut, yang dalam hal ini adalah jaringan internet atau insentif berupa kuota dan sebagainya. Menurut pengamatan saya hari ini belum ada penambahan tower-tower baru di Kalbar,”

” Selain itu juga, Pemerintah daerah perlu membuat pemetaan untuk mengetahui kondisi wilayah, baik itu peta terkait sebaran Covid-19 maupun peta wilayah yang tidak ada akses internet. Sebenarnya di daerah kemungkinan terpapar virus tidak terlalu rawan seperti di kota, jadi untuk memenuhi hak-hak anak dalam belajar menurut saya perlu terobosan solutif seperti contoh, sistem guru kunjung. Misalnya, anak di kumpulkan di tempat tertentu dengan jumlah yang di batasi serta tetap mematuhi protokol dan guru mengunjungi untuk memberikan pembelajaran secara tatap muka. Jadi harus adanya kebijakan alternatif yang fleksibel sesuai kondisi suatu wilayah untuk mensiasati pembelajaran bisa tetap berjalan dengan baik,” Ujar Praktisi Pendidikan ini saat di wawancarai di ruang kerjanya.

Selanjutnya. Rustam, Rektor IKIP PGRI Pontianak juga mendorong fokus Kabupaten/Kota salah satunya pembangunan secara merata infrastruktur internet, listrik dan sebagainya termasuk ke wilayah pedalaman apabila ingin benar-benar mengoptimalkan pembelajaran daring ini secara menyeluruh. Menurutnya pemerintah perlu membangun kerjasama dengan perusahaan telekomunikasi untuk pengadaan fasilitas penunjang internet di daerah.

” Pemerintah perlu membangun tower-tower baru di daerah untuk mengakses signal internet, dan listrik. Dalam hal ini juga perlu sekiranya menggandeng perusahaan telekomunikasi untuk sama-sama memberikan solusi terkait internet ini. Mengenai bantuan , saya rasa tidak mesti harus selalu bantuan uang tunai, selain tidak adanya jaminan pasti apakah yang menerima tersebut benar-benar masyarakat yang terdampak akibat covid. Satu sisi takut justru malah disalah gunakan, jadi anggaran untuk bantuan tunai tersebut alternatif lain bisa juga di manfaatkan untuk bantuan fasilitas tertentu termasuk salah satunya untuk memenuhi kebutuhan akan internet ini,” Ujar Rustam.

Rektor yang dikenal sederhana dan supel dalam bergaul tersebut juga memberi saran kepada tenaga pendidik untuk tidak selalu hanya memberikan tugas kepada siswa sehingga semakin menambah beban siswa dan orang tua. Tetapi dalam kondisi seperti ini peran guru juga harus membangun karakter.

Pewarta : Azmi

Comment

News Feed