by

Penggiat Pendidikan Kalbar Ungkap Dilema Pembelajaran Daring Selama COVID-19

Dilema Pembelajaran Daring Selama COVID-19

Oleh : Indra Dwi Prasetyo (Penggiat Pendidikan Kalbar)

TepinKapuas.Com, PONTIANAK — COVID-19 setidaknya mencuri perhatian kita beberapa waktu terakhir ini. Setidaknya, sejak pengumuman kasus ini 2 Maret 2020 silam oleh Presiden Joko Widodo, terdapat beberapa strategi pemerintah untuk meminimalisir dampak penyebarannya, “social distancing” adalah salah satunya. Walau kemudian istilah ini diralat menjadi “physical distancing’, hal ini tidak memengaruhi esensi dari kampanye ini untuk menjaga jarak aman antar sesama individu. Kampanye ini setidaknya berdampak atas banyak faktor, salah satunya pendidikan.

Opsi belajar dari rumah pada akhirnya diambil oleh Kemendikbud yang memungkinkan para siswa untuk tetap belajar walau dari rumah dengan memanfaatkan teknologi daring (online). Untuk mendukung kebijakan tersebut, Kemendikbud juga menggandeng TVRI untuk membuat program “Belajar Dari Rumah”.

Pertanyaan besarnya, seberapa siap para pendidik serta pelajar menyikapi pembelajaran dari ini?

Dalam satu minggu terakhir ini, saya dan teman-teman alumni LPDP Kalimantan Barat mengadakan Virtual Educator untuk guru-guru Kalimantan Barat. Tercatat sekitar 1.500 Guru yang mendaftarkan diri untuk belajar bagaimana menggunakan teknologi daring dalam pengajaran.

Materi yang diberikan beragam, mulai dari bagaimana menyusun pembelajaran daring, membuat pertemuan belajar secara daring hingga membuat kuis atau soal secara virtual. Kata kuncinya satu: bagaimana para guru terbiasa menggunakan pembelajaran daring.

Mungkin solusi di atas terlihat sederhana, namun hal ini bukan berarti tanpa kendala. Mengutip Brunner (1996) dalam bukunya “The Culture of Education” bahwa tantangan Pendidikan adalah mengaktualisasikan pengetahuan dan pengalaman untuk menyelesaikan masalah hari ini. Disini adalah letak masalah pertamanya, tidak semua pendidik memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam mitigasi pendidikan ditengah wabah seperti ini.

Kita semua hanya mencoba untuk meraba-raba tentang cara yang kita anggap terbaik yang bisa kita lakukan agar proses belajar mengajar dapat terus terlaksana. Walau bisa jadi, cara tersebut belum teruji efektifitas serta dampaknya.

Karena pengalaman dan pengetahuan para pendidik berbeda-beda, proses dan hasil pembelajaran yang didapatkan bisa jadi berbeda. Sebuah platform pendidikan tertentu bisa jadi berjalan optimal oleh seorang guru, namun hasil yang berbeda sangat mungkin terjadi jika platform yang sama diimplementasikan oleh guru lainnya.

Hal ini tidak lain diakibatkan oleh pengetahuan dan pengalaman yang berbeda dari para guru yang mengoperasikannya. Karena pada prinsipnya, platform hanyalah alat yang sangat bergantung kepada siapa yang menggunakannya.

Terlepas dari masalah pengalaman dan pengetahuan para pendidik, kendala teknis tidak jarang menjadi faktor penghambat lainnya. Misalnya, pada daerah yang minim jaringan internet, sudah barang tentu virtual meeting berbasis real time menjadi barang langka jika tidak ingin disebut mustahil. karenanya, pembelajaran daring dengan metode ini jelas tidak dapat diduplikasi di wilayah yang memiliki jaringan internet terbatas.

Jaringan internet bukan pula satu-satunya kendala teknis. Ketersediaan gawai (device) yang tersedia ditengah-tengah siswa juga merupakan masalah selanjutnya. Kita bisa saja berasumsi bahwa siswa-siswi di perkotaan memiliki laptop, atau setidaknya telepon pintar, namun bagaimana dengan siswa-siswi di daerah?

Persoalan menjadi semakin runyam ketika para pelajar tidak dapat mengakses pembelajaran di tempat lain, misalnya belajar berkelompok kepada temannya yang memiliki gawai, atau ke pusat penyewaan komputer/warnet. Hal ini tidak lain karena aturan physical distancing yang harus mereka patuhi.

Melihat fenomena di atas, kita sadari atau tidak, menjadikan tekonologi sebagai alat yang superpower hari-hari ini. Dengan bahasa yang sedikit retoris, dapat kita katakan bahwa tanpa bantuan teknologi, sulit dilakukan pembelajaran ditengah wabah seperti ini. Teknologi tersebut tersebut meliputi TV, internet, aplikasi pendukung hingga telepon pintar.

Peran teknologi pada level ini, jika merujuk pada Freire (1985) dalam “The Politics of Education”, dapat berfungsi sebagai mesin dominasi. Dominasi yang dimaksud disini adalah ketika teknologi berperan sedemikian rupa hingga membentuk apa yang disebut dengan pengetahuan yang hanya dapat dinikmati oleh mereka yang mampu. Serta kebalikannya, tidak terjangkau oleh masyakarat yang kelas bawah (silence people).

Pada tahap ini, peran pemerintah sangat krusial untuk memastikan bahwa kebutuhan tekonologi setiap elemen masyarakat dapat terpenuhi secara baik dalam waktu yang relatif cepat. Sebab jika tidak, perkawinan antara teknologi dan pendidikan seperti ini dapat menjadi “new normal” dimasa mendatang yang bisa jadi menegasikan posisi masyarakat kelas bawah yang tidak mampu untuk mengaksesnya. Ketika itu terjadi, pendidikan akan menunjukan wajahnya yang opresif dan berpihak.

Penggunaan teknologi pada pendidikan hari-hari ini, suka atau tidak, akan menjadi hal normal baru pendidikan kita dimasa mendatang. Oleh karenanya, pemerintah sejatinya sedang berpacu dengan waktu untuk memastikan bahwa sarana serta prasarana penunjang pendidikan dapat terpenuhi

Setidaknya, ada beberapa hal yang dapat dilakukan pemerintah untuk dapat menjawab persoalan di atas. Jika pengetahuan adalah kunci dari penggunaan teknologi pendidikan, maka pemerintah, dalam hal ini Kemendikbud, harus memastikan para guru memiliki kompetensi yang cukup dan merata dalam melaksanakan pembelajaran secara daring.

Selain kompetensi para pendidik, pemerintah juga harus memastikan kebutuhan penunjang seperti ketersediaan jaringan internet serta gawai yang bisa diakses oleh semua siswa dapat terpenuhi. Hal ini bertujuan agar pendidikan dapat terlaksana secara merata, baik pelajar yang tinggal di perkotaan ataupun pelajar yang tinggal di daerah.

Tentu, hal ini tidak hanya menjadi PR Kemendikbud semata, melainkan juga elemen-elemen lainnya yang terkait. Pendidikan mungkin bukan prioritas utama dalam penanganan COVID-19 hari-hari ini, dimana pemerintah berfokus pada korban yang terdampak secara langsung. Hal ini dapat kita dimaklumi.

Namun, ketika pandemi ini suatu saat berakhir dan teknologi dalam sudah menjadi “the new normal”, pertanyaanya: sudah siapkah kita?

Comment

News Feed